
Daniel Lukito, kelahiran Jakarta tahun 1978, adalah lulusan dari Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta setelah menempuh masa pendidikan selama 3,5 tahun. Untuk mempelajari ilmu manajemen, beliau kemudian mengikuti program pendidikan pasca sarjana di Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar Magister Manajemen. Pendidikan yang lebih lanjutpun dikejarnya hingga ke Eropa hingga gelar Master of Science in International Business (MScIB)pun diraihnya. Program Pendidikan tersebut diselenggarakan oleh 3 Universitas ternama di Eropa yang membentuk European Consortium of Management Studies itu. Mereka adalah RijksUniversiteit Groningen, The Netherland, University of Stirling, Scotland – United Kingdom, dan CERAM Business School, Nice – France. Di dalam program yang diikuti oleh siswa dari 17 negara itu, beliau berhasil menjadi lulusan tercepat di angkatannya, dengan rentang waktu sekitar 3 bulan dengan lulusan berikutnya.
Merasa kalau kemampuannya masih perlu terus ditingkatkan, beliau belajar tentang property dari berbagai praktisi yang sangat ternama di dunia property, hingga di tahun 2014, memperoleh gelar Certified Property Analyst (CPA), Certified Property Investor (CPI), Certified Property Developer (CPD) dari Panangian School of Property.
Menyadari pentingnya peranan komunikasi interpersonal dalam segala kegiatan untuk mendapat dukungan semua orang hingga tercapainya tujuan, Bpk Daniel Lukito tiada hentinya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan lainnya hingga saat ini beliau pun menyandang Certified Neo NLP Trainer (CT), Certified Hypnotherapist Instructor (CI), dan Certified Public Speaking (CPS), sehingga beliau bukan saja sebagai praktisi dari berbagai keilmuan penting yang sangat berguna untuk pengembangan diri, baik untuk pribadi, maupun sebagai bagian dari perusahaan, namun juga dapat memberikan pelatihan agar orang lain dapat menguasai berbagai pengetahuan tersebut dan dapat mempraktekkannya dalam perkembangan hidup mereka sehari-hari.
Saat ini, beliaupun merupakan bagian dari berbagai organisasi seperti Mensa Indonesia, Mysterium Society, Neo NLP Society, Indonesian Board of Hypnotherapy, dll yang di antara anggotanya sama-sama memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi manusia untuk mencapai tingkat hidup yang lebih baik.
Beliau pernah ikut mendirikan dan memimpin sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta dan juga berpengalaman mendirikan dan mengembangkan perusahaan manufaktur produk plastik dan botol plastik kemasan di Semarang, Jawa Tengah, di samping beberapa usaha lainnya.
Beliau pun penah mengalami beberapa kali jatuh bangun dalam hidupnya. Pengalaman pahitnya telah menjadi perisai, dan bersama dengan berbagai pengalaman suksesnya sebagai senjata, dan dilengkapi dengan berbagai perangkat keahlian lainnya, untuk membentuk suatu konsep yang mendukung pembentukan bisnis baru UMKM yang sustainable. Bisnis, yang direncanakan sejak awal untuk sukses dan dapat bertahan di segala kondisi. Fokus kepada UMKM diberikan karena menurut beliau, di situlah pondasi perekonomian rakyat. UMKM yang maju dan berkembang menciptakan daya beli yang lebih tinggi untuk dapat mengkonsumsi produk serta jasa dari usaha lainnya.
Berbagai penghargaan telah diterimanya atas pencapaian dan perhatiannya pada masyarakat UMKM dan keberhasilannya mendirikan dan membawa perusahaan yang dipimpinnya ke tingkat yang lebih tinggi. Beberapa di antaranya adalah:
Indonesian Figure Achievement Award 2014 – Forum Komunikasi Wartawan Indonesia
Indonesian Creativity Award 2013 – kategori “The Most Inspiring Company of The Year“
Citra Adikarsa Pelopor Penggerak Pembangunan 2013 – Forum Komunikasi Wartawan Indonesia
Adalah impian besar beliau agar semua orang dapat memperoleh pendidikan yang baik dan memiliki usaha serta pekerjaan yang sukses demi mewujudkan kesejahteraan keluarga yang pada akhirnya berujung pada kesejahteraan seluruh umat manusia.
Salam Sejahtera..
JET Society dibentuk di tahun 2015, diprakarsai oleh Bpk. Daniel Lukito. JET Society adalah sebuah komunitas belajar mengajar di bidang pengembangan diri dan pengembangan bisnis. JET Society berpusat di Semarang, Jawa Tengah. Tujuan dari JET Society adalah peningkatan kesejahteraan Bangsa Indonesia melalui perubahan mindset, atau yang lebih dikenal dengan revolusi mental, serta kemudahan akses bagi mereka yang ingin maju, untuk mempelajari berbagai macam Soft Skills dan Hard Skills yang diperlukan untuk mengembangkan nilai diri masing-masing individu sebagai bagian dari kelompok yang lebih luas.
Dari berbagai keahlian yang diperlukan untuk mengakselerasi kemajuan, beberapa di antaranya tengah dipersiapkan pelatihannya oleh JET Society, diantaranya adalah Komunikasi, Public Speaking, Sales,Business Startups, Investasi, dan Goal Setting. Selain pelatihan, JET Society juga dapat memberikan pendampingan (Coaching) dalam pengembangan usaha, management, pembongkaran mental block, danpenyembuhan fobia.
Asal mula dari JET Society sebetulnya adalah kegiatan internal dari CV. Jordan, sebuah perusahaan manufaktur botol kemasan plastik di Semarang, yang dipimpin Bpk. Daniel Lukito, yang memiliki fokus melayani usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). JET sendiri awalnya adalah singkatan dari Jordan Education & Training, sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia di CV. Jordan, dimulai sejak tahun 2013. Beberapa program pertama JET hampir semuanya bersifat hard skill seperti pengenalan komputer, menggambar 3D, pengenalan alat automasi, dasar-dasar desain automasi, dsb. Baru di pertengahan akhir tahun 2014, mulai diperkenalkan program-program pendidikan yang bersifat soft skills, seperti Neuro Linguistic Programming, di mana karyawan mulai mempelajari bagaimana membentuk mindset yang baik, bagaimana membuat Goal extraordinary yang bisa dicapai, bagaimana cara menggali informasi dari lawan bicara, bagaimana cara menyampaikan pendapat agar dapat diterima lawan bicara, bagaimana menjadi tuan atas emosi sendiri, bagaimana menghancurkan mental block, dsb.
Dari hasil riset tim marketing di CV. Jordan, ternyata ada beberapa pelanggan UMKM yang tidak melanjutkan bisnisnya karena berbagai hal. Di antaranya karena kalah dalam persaingan usaha, kesalahan perhitungan modal usaha, kurang agresif dalam penjualan, kurang tepatnya sasaran pemasaran, dan lain sebagainya. Bpk. Daniel Lukito berpendapat bahwa CV. Jordan bisa terus maju dan berkembang, kalau para pelanggannya semua maju dan terus tumbuh. Maka dari itu, munculah gagasan agar para pelaku UMKM pada umumnya, dan pelanggan CV. Jordan pada khususnya dapat memperoleh pengetahuan dan pendampingan agar bisnis mereka masing-masing dapat berjaya, dan agar para karyawan atau orang-orang yang belum memiliki bisnisnya sendiri dapat meningkatkan nilai jualnya masing-masing. Apalagi jika mengingat, sebentar lagi sudah masuk era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Dari gagasan inilah, maka kegiatan yang sebelumnya bernama JET (Jordan Education & Training) yang khusus untuk internal CV. Jordan, dicoba dikembangkan untuk melayani masyarakat dengan lingkup yang lebih luas yang disebut JET Society, komunitas pendorong tersebarnya keahlian yang berguna bagi masyarakat (Empowering Skills Thruster).
“Nothing will change if you change nothing“
Salam Dahsyat….
Published On Friday, December 26, 2014 By admin. Under: Business & Management. Edit Post
Sahabat-sahabatku yang baik, pernahkah Anda yang sedang dalam kondisi sangat bersemangat untuk memulai suatu usaha, merasa patah semangat mendengar kalimat yang kurang lebih seperti berikut: “secara statistik, 70% bisnis baru gulung tikar dalam waktu 4 tahun sejak berdiri“
Dari mana sih pernyataan itu? Apakah statistik tersebut benar adanya?
Pernyataan tersebut di klaim dinyatakan oleh salah seorang petugas Small Business Administration (SBA), sebuah lembaga yang mendukung kegiatan usaha kecil di Amerika Serikat. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata ada kalimat yang diucapkan oleh orang tersebut yang ditangkap secara keliru dan di besar-besarkan di media. Mengklarifikasi hal tersebut, menurut Jere Glover, the chief counsel for advocacy di SBA, yang dimaksud sebetulnya adalah “…. apabila ada bisnis baru yang gagal, 70% (dari yang gagal saja, bukan dari seluruh bisnis baru) kegagalan tersebut akan terjadi di 4 tahun pertamanya”.
Faktanya adalah:
Jadi, jika Anda memiliki panggilan hati untuk berbisnis, membuka usaha apapun, tetap SEMANGAT!! Silakan lakukan saja dengan memperhatikan beberapa hal berikut pada masa perencanaan:
10 Rahasia Sukses Hindari Kebangkrutan Pada Bisnis Baru:
(Michael Ames, Gustav Berle)
Sukses selalu untuk Anda yang dahsyat. Penjelasan yang lebih detail dari 10 Rahasia Sukses Hindari Kebangkrutan pada Bisnis Baru, dibahas pada artikel yang berbeda.
Salam Dahsyat,
Daniel Lukito
Informasi – Semakin banyak semakin josss
Published On Saturday, December 27, 2014 By admin. Under: Business & Management. Edit Post
“Bekerjalah sesuai dengan Passionmu!” Pernahkah para sahabat sekalian mendengar kalimat yang seperti itu? Kita sering membaca tulisan tentang bagaimana seseorang dapat berangkat from nothing to everything karena mengikuti dan menekuni passionnya. Cerita-cerita tersebut menginspirasi banyak orang untuk dapat melakukan hal yang sama, menekuni passionnya. Namun, berapa banyak orang yang kita kenal baik, mengikuti passionnya dan menemui kegagalan? Anda dapat mencoba untuk mengetik kata kunci “passion gagal” di search engine, maka Anda akan menemukan ada banyak sekali orang yang mengikuti passionnya dan kemudian gagal.
Ada orang yang mengikuti passionnya dan berhasil, lalu ada pula orang yang mengikuti passionnya dan gagal. Kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari 2 fakta ini? “Passion tidak ada kaitannya dengan kesuksesan atau kegagalan kita melakukan sesuatu.” Hahahaha, ini bukan kesimpulan yang tepat, berhati-hatilah menyimpulkan sesuatu dari fakta-fakta yang disodorkan ke depan kita. Sebagai praktisi NLP (Neuro Linguistic Programming), saya belajar untuk membandingkan 2 kondisi. Kalau ada orang yang menyatakan bisa sukses karena mengikuti passionnya sedangkan orang lain mengikuti passionnya dan gagal, pasti ada perbedaan dalam cara penggunaan passion itu. Perbedaan perilaku yang menyebabkan perbedaan hasil, lalu perbedaan hasil tersebut menyebabkan perbedaan nasib.
Bagaimana sebetulnya passion dapat mendukung kita dalam mencapai keberhasilan? Kuncinya adalah pengumpulan informasi. Disadari atau tidak, orang yang bekerja sesuai dengan passionnya cenderung lebih gigih dalam pengumpulan informasi.
15 Informasi dahsyat yang dibekali dari passion:
Jadi, mengapa ada yang sukses mengikuti passionnya dan ada yang gagal? Jawabannya adalah dari perbedaan jumlah informasi antara orang yang telah lama menggeluti passionnya sebelum menjadikannya sebagai mata pencaharian sehingga informasi yang dimilikinya sudah banyak, dan ada orang yang menerjuni bidang tersebut tanpa informasi yang cukup.
Apakah orang yang yang tidak memiliki passion di suatu bidang, bisa sukses di bidang tersebut? Jawabannya…. BISA…, selama dia memiliki informasi yang cukup. Informasi tersebut bisa saja berasal dari pengalaman kerjanya, dan dari berbagai sumber lainnya.
Informasi yang cukup itu seberapa sih? Tidak ada ukuran yang pasti dari CUKUP. Semua informasi yang dimiliki, pada akhirnya akan berujung pada penawaran yang bisa Anda buat untuk pasar. Satu-satunya cara adalah tes pasar dengan survey, apabila Anda menawarkan produk dan jasa X dengan harga sekian dan pelanggan mendapat pelayanan seperti A, B, C, berapa banyak yang mau beralih kepada Anda, apabila Anda mendapat respon yang baik sebesar 10 kali dari yang Anda rasa cukup untuk penghasilan Anda, menurut saya sudah aman untuk Anda terjun ke bidang itu (hanya sekitar 10% dari hasil survey Anda yang akan betul-betul beralih kepada Anda dalam waktu singkat).
SUKA –> BELAJAR –> BISA –> MAKIN SUKA –> BELAJAR LAGI –> MAKIN BISA –> MAKIN SUKA dan seterusnya adalah siklus pengembangan diri yang bisa di mulai dari titik manapun, dari SUKA (Passion), BISA (Pengalaman Kerja), maupun BELAJAR.
“Tidak ada jalan pintas untuk pengalaman, semuanya harus ditumpuk satu persatu dengan tangan ini” Kazuki Yamamoto
Modal Usaha – Ketahanan di masa awal bisnis baru
Published On Monday, January 05, 2015 By admin. Under: Business & Management. Edit Post
“Modal bisnis yang cukup itu berapa, sih?” Mungkin banyak di antara kita yang sering bertanya-tanya demikian saat ingin memulai bisnis sendiri. Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas, karena perhitungan modal juga sangat tergantung dari jenis dan ukuran bisnis yang hendak dijalankan.
Sebelum kita bicarakan lebih lanjut mengenai kebutuhan modal untuk bisnis. Kalau saya pribadi, membagi modal untuk memulai sebuah bisnis menjadi 2 jenis:
Apa itu modal financial? Bagi saya modal finansial adalah modal berupa uang atau barang yang bankable (dapat dijaminkan) untuk digunakan dalam pembiayaan operasional bisnis.
10 sumber modal financial:
Lalu, apa itu modal personal? Modal Personal bagi saya adalah hal-hal yang kita miliki, yang tidak bisa ditukarkan secara langsung untuk mendapatkan dana operasional bisnis, namun sangat menentukan hasil akhir sukses atau tidaknya sebuah bisnis. Modal Personal adalah hasil investasi kita terhadap diri kita sendiri sampai hari ini.
18 macam modal Personal:
Tentu saja, selain yang disebutkan di atas, masih banyak lagi sumber modal financial dan modal personal lainnya. Tidak semua modal financial itu perlu digunakan sekaligus, tetapi 16 macam modal personal itu hampir seluruhnya dibutuhkan, meskipun dapat diterapkan dengan level yang berbeda-beda.
Mungkin kita pernah mendengar kalimat-kalimat seperti, “Beli franchise tanpa modal”, atau “beli properti modal dengkul”, nah, modal yang dimaksud di sini adalah modal financial. Betul-betul bisakah di aplikasikan yang namanya beli tanpa modal financial tersebut? Ya, jawabnya bisa, dengan memiliki modal personal yang cukup baik, semua bisa diusahakan. Hanya saja, selain biaya perolehan, pada sebagian besar bisnis tersebut kemudian muncul yang namanya operational costs, hutang piutang, dan rugi laba, yang mana tentu saja kembali butuh modal financial yang cukup, untuk tarik ulur dalam uji ketahanan dan pengembangan usaha terkait. Semakin banyak modal finansial yang bisa digunakan, semakin baik.
Lalu apakah ada rumusan minimal modal usaha finansial yang dibutuhkan untuk memulai suatu usaha? Tidak ada rumusan pasti. Semakin berpengalaman seseorang dalam bidang terkait, semakin tepat perhitungan kebutuhan dananya. Bagi sahabat-sahabatku yang baik, beberapa pengalaman yang saya alami dan cerita dari kawan-kawan, jika ini adalah bisnis pertama Anda, maka saya usulkan agar Anda membuat dan menghitung proyeksi cashflow 1 tahun ke depan. Dalam proyeksi cashflow itu dapat terlihat minimal dana finansial yang dibutuhkan. Saran saya adalah, Anda memiliki modal usaha finansial minimal 3x lipat lebih banyak dari angka yang muncul melalui proyeksi cashflow tersebut.
Untuk apa 3x lebih banyak? karena akan ada banyak pengeluaran yang di luar perhitungan awal, sehubungan dengan ini adalah bisnis pertama Anda, atau ada biaya-biaya yang terlalu rumit sehingga Anda akhirnya hanya menebak dan membulatkan saja.
7 alasan proyeksi cashflow bisnis baru meleset:
Demikian yang dapat saya sampaikan dalam artikel ini, setidaknya miliki modal usaha finansial minimal 3x proyeksi kebutuhan untuk mendapatkan ketahanan bisnis baru Anda yang lebih baik.
Inventory Management – Efisiensi Modal Kerja
Published On Saturday, January 10, 2015 By admin. Under: Business & Management. Edit Post
Dear Friends,
Seperti yang telah disinggung dalam artikel saya yang berjudul “Semangat Mulai Bisnis Baru – Hindari Kegagalan” mempelajari dan menguasai Inventory Management sangat penting dalam sebuah bisnis.
Apa yang dimaksud dengan Inventory Management? Berikut beberapa definisi yang saya peroleh:
Pengawasan dan pengendalian aktivitas pemesanan dan penyimpanan, serta penggunaan komponen yang akan digunakan untuk keperluan produksi barang-barang yang akan dijual sekaligus pengawasan dan pengendalian jumlah barang jadi yang siap dijual. (Investopedia.com)
Suatu bidang keilmuan yang fokus pada pembuatan ketetapan tentang bentuk dan prosentase barang yang di simpan. (en.wikipedia.org)
Aktivitas yang diterapkan untuk memelihara jumlah yang optimal dari setiap jenis barang yang disimpan. (Businessdictionary.com)
Dari beberapa definisi yang ada, saya cenderung lebih cocok pada definisi dari www.e-conomics.com sebagai berikut:
“Kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan memelihara bermacam-macam jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan dengan memperhitungkan biaya yang muncul atas kegiatan tersebut.”
Yes.. BIAYA, itulah kata kuncinya. Setiap barang yang kita simpan, baik itu bahan baku, maupun barang siap jual, adalah modal kita yang berhenti dalam putaran modal kerja. Semakin banyak stok yang kita miliki dalam satu waktu, semakin banyak pula modal yang kita butuhkan untuk mengadakan barang-barang tersebut.
Inventory Management bagi saya adalah suatu keahlian untuk menetapkan ketersediaan barang yang tepat pada waktu yang tepat dengan jumlah yang tepat sekaligus menetapkan pengaturan tata letak dan cara penyimpanan yang paling tepat untuk setiap jenis barang, serta keahlian untuk menetapkan perlakuan (handling) yang tepat terhadap barang tersebut saat perpindahan lokasi.
7 Penghematan biaya sebagai manfaat inventory management yang baik:
Semakin cepat kita bisa menguasai dan menerapkan inventory management ini, akan semakin baik bagi kita, karena penghematan biaya yang dapat kita capai. Bagi bisnis baru, tentu saja pelaksanaan inventory management yang baik, akan sangat memperkuat ketahanan bisnis Anda sekalian.
Inventory Management adalah keahlian yang dibutuhkan di seluruh bidang pekerjaan. Dalam suatu perusahaan yang sudah terbagi atas Department atau bagian-bagian yang memiliki tugas masing-masing, Inventory Management bukan keahlian yang hanya dibutuhkan oleh Department Logistics atau gudang saja, melainkan dibutuhkan pada setiap Department.
Puncak yang dikejar dalam Inventory Management adalah suatu sistem yang disebut dengan Just In Time (JIT) atau Zero Inventory Control (ZIC) yaitu sistem yang aliran stoknya begitu lancar sehingga tidak memiliki stok sama sekali di akhir hari. Untuk perusahaan manufaktur yang dapat mencapai puncak ini, bahkan tidak memerlukan gudang bahan baku, maupun gudang barang jadi.
Marilah kita semua mulai untuk berpikir. Bagaimana kita dapat memperbaiki sistem kerja kita, agar dari waktu ke waktu, prosentase jumlah barang-barang yang disimpan dapat semakin kecil.
Salam Dahsyat,
Daniel Lukito
Relay
Published On Tuesday, December 30, 2014 By admin. Under: Automation. Edit Post
Bagi yang ingin mempelajari automasi, Relay adalah salah satu komponen yang sangat penting untuk dipahami dan dikuasai penggunaannya.
Apa sih, Relay itu? Secara singkat, menurut definisi saya, Relay adalah saklar yang digerakkan oleh listrik. Relay dalam automasi digunakan untuk memutus dan menghubungkan aliran listrik atau sinyal kontrol.
Anda dapat mengetahui lebih jelas mengenai komponen-komponen penyusun sebuah relay dari sumber-sumber yang banyak bisa diperoleh di internet, seperti di wikipedia dan how stuff works. Yang akan saya bahas di artikel ini lebih ke bagaimana kita dapat memanfaatkan relay tersebut dalam suatu proses otomasi.
Ada 2 bagian dari relay yang dapat kita kendalikan:
gambar dari my-smt.blogspot.com
Coil adalah kumparan kawat email yang apabila diberi aliran listik, akan menimbulkan reaksi elektromagnetik, yang dapat mengubah status set contact. Listrik dapat dialirkan ke coil melalui 2 titik pada relay yang terhubung pada kedua ujung kawat kumparan. Perhatikan baik-baik, pada setiap relay, tertulis pada Voltage (tegangan) berapa coil tersebut bekerja. Pastikan Anda menggunakan tegangan yang sesuai untuk relay yang Anda gunakan.
Di dalam satu relay, bisa terdapat satu atau lebih set contact. Satu Set Contact pada Relay biasanya terdiri dari 3 titik. Saya menyebutnya:
Pada waktu Coil tidak mendapat aliran listrik, disebut kondisi NORMAL. Pada kondisi normal tersebut:
Pada waktu Coil mendapat aliran listrik, kondisi NORMAL berubah menjadi:
Demikianlah dasar penggunaan relay. Sangat mudah, ya?
Sekarang kita masuk sedikit ke tahap lanjut. Siap?
Misalkan ada Relay yang terdiri dari 1 buah coil dan 2 set contact, seperti pada gambar di atas, maka yang perlu diketahui adalah dengan mengalirkan listrik ke coil, maka status dari 2 set contact akan berubah secara BERSAMAAN. Tidak bisa diatur agar hanya satu set contact yang berubah.
Yang jarang diperhatikan orang adalah bahwa Set Coil, Set Contact ke-1, dan Set Contact ke-2 masing-masing adalah bagian dari rangkaian listrik yang terpisah satu sama lain. Tidak ada hubungan listrik secara built in di antara ketiga sistem tersebut. Lalu, apa arti dan manfaat dari mengetahui hal ini? Manfaatnya banyak sekali, karena pikiran kita jadi jauh lebih terbuka dan bebas dalam pemanfaatan sebuah relay. Misalnya saja, kita dapat menggunakan relay dengan coil 24VDC untuk menjalankan sistem dengan tegangan 220VAC di Set Contact ke-1, sedangkan di Set Contact ke-2, kita gunakan untuk menjalankan sistem yang menggunakan sistem 12VDC.
Saya harap, sampai di sini bisa dipahami. Mungkin ada yang bertanya, kok bisa? Apakah tidak terjadi hubungan singkat? Jawabnya, “TIDAK terjadi hubungan singkat” karena, sekali lagi, secara built in, tidak ada hubungan kelistrikan sama sekali di antara Set Coil, Set Contact ke-1, dan Set Contact ke-2 pada relay tersebut. Perhatikan gambar Relay MK2P1 di atas,
dapat kita lihat bahwa relay tersebut benar-benar memiliki 3 set sistem kelistrikan yang sama sekali terpisah.
Lalu, kapan sih kita menggunakan sebuah relay untuk sistem automasi yang berbeda tegangan dengan coilnya? Kalau saya sih cukup sering. Misalnya kita berusaha menggunakan tegangan 24VDC untuk tegangan coil relay di panel kontrol untuk menggerakan peralatan automasi lainnya seperti valve-valve hidrolik dan pneumatik yang menggunakan tegangan 220VAC. Biasanya kita menggunakan tegangan 24VDC untuk relay atau peralatan yang apabila dilakukan perawatan, cukup tinggi potensi “kesetrum” nya. Lalu kenapa tidak semuanya saja pakai 24VDC? kalau saya sih, karena power supply untuk 24VDC yang bagus cukup mahal. Sehingga dalam desain, untuk bagian-bagian yang hanya bisa dibongkar kalau sistem dimatikan, dapat menggunakan tegangan 220VAC, langsung dari PLN.
Beberapa tips dalam penggunaan Relay:
Demikian pembahasan saya mengenai bagaimana kita dapat menggunakan sebuah relay, semoga bermanfaat.
Successful WIN – WIN Approach for Sales & Negotiation
Published On Thursday, January 22, 2015 By admin. Under: Communication. Edit Post
Win – Win Solution merupakan sebuah istilah yang sudah lama sekali kita dengar. Sebuah konsep yang sangat indah di mana semua pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan jual beli maupun negosiasi merasa senang karena harapannya terpenuhi.
Dalam berjalannya waktu, saya mengalami bahwa untuk mencapai status win-win solution ini tidak mudah, boleh dikata hampir tidak mungkin tercapai. Bagaimana mungkin, misalnya saja sebagai contoh, seorang penjual hendak menawarkan produknya, katakanlah kantong plastik belanjaan, kepada seorang pemilik kios di sebuah pasar. Kantong plastik itu merupakan hasil produksi kebanggaan perusahaan si penjual yang memiliki nilai tinggi bagi si penjual, namun di sisi lain, kantong plastik itu adalah sesuatu yang “dibuang” atau diberikan cuma-cuma kepada pelanggan si pemilik kios. Bagi pemilik kios, uang yang dia rela keluarkan untuk membeli kantong plastik ini sebetulnya sangat kecil.
Bagaimana mungkin bisa tercapai kesepakatan bagi 2 pihak, di mana yang satu menilai sebuah produk atau jasa yang terkait memiliki nilai yang tinggi, dan di lain pihak menilai produk atau jasa tersebut begitu rendah. Di situlah kemudian terjadi tawar menawar harga hingga tercapai kesepakatan. Banyak yang menganggap bahwa harga yang disepakati itulah Win-Win Solution. Selama ini saya selalu meragukan bahwa negosiasi harga seperti itulah yang disebut Win-Win Solution, karena menurut saya pribadi, itu adalah suatu yang Lose-Lose untuk kedua pihak. Penjual menerima bayaran kurang dari yang diharapkan, sedangkan pembeli membayar lebih dari yang dia rela.
Lalu bagaimana sebetulnya yang namanya pendekatan Win-Win itu? Mungkinkah keadaan Win-Win yang ideal tercapai? Saya berpikir bahwa seharusnya Win-Win Approach ini seharusnya mungkin dicapai, kenapa? kalau sekedar negosiasi harga seperti tadi, tentunya Win-Win Approach ini tidak akan menjadi suatu konsep yang mendunia. Pasti ada caranya agar Win-Win Approach yang asli bisa tercapai.
Akhirnya di tahun 2014, jawabannya saya temukan. Setidaknya jawaban yang menurut saya pribadi bisa digunakan untuk mencapai kondisi Win-Win yang sebenarnya. Setelah saya di tahun 2014 “berguru” ke mana-mana, sekolah, seminar, training, dan lain sebagainya dalam mempelajari banyak hal baru di berbagai bidang ilmu, akhirnya ada yang “Klik” dalam hal bagaimana caranya agar kita bisa mencapai kondisi Win-Win.
Jawaban yang saya temukan kembali kepada Nilai (VALUE). Hanya saja konsep Value ini ternyata perlu diperluas dari value produk itu sendiri hingga ke tahap personal para pihak. WIN-WIN Solution bisa tercapai pada saat penjual bisa mendapat bayaran sesuai dengan nilai yang dia anggap pantas, dan pembeli merasa bahwa uang yang dikeluarkan itu nilainya sangat kecil daripada jika dia tidak membeli produk tersebut.
“WIN-WIN Approach adalah suatu seni
untuk memberikan VALUE yang sangat tinggi kepada pihak lain,
dan HANYA SETELAH ITUlah kita meminta agar bisa diberi sedikit
dari Value yang sudah kita berikan”
Daniel Lukito, 2014
Katakanlah si A, seorang karyawan yang membutuhkan tambahan penghasilan dan dia menggunakan konsep WIN-WIN Approach saya tadi, maka dia akan menghadap Direkturnya dan berkata, “Pak, saya punya ide untuk menghemat biaya listrik perusahaan sebesar Rp. 2000.000,- per bulan, kalau setelah teruji selama 6 bulan, bolehkah, mulai bulan ke-7, saya minta tambahan insentif sebesar Rp. 100.000,- per bulan?”
Kira-kira bagaimanakah jawaban si Direktur? dia telah diberi WIN sebesar Rp. 12.000.000,- untuk penghematan di 6 bulan pertama, dan Rp. 1.900.000,- untuk seterusnya.
Si A, dengan konsep ini, berpikir dan bekerja sekali saja di depan, lalu menunggu 6 bulan, dan setelah itu menerima Rp. 100.000,- per bulan tanpa harus mengerjakan apa-apa lagi yang major, hanya pemeliharaan sistem. Ini juga WIN, Karena setelah itupun dia punya waktu untuk membuat penawaran-penawaran lainnya.
(catatan: ini hanya contoh jika penghematan dilakukan tanpa investasi apapun. Jika memerlukan biaya Investasi, maka si A perlu memperhitungkannya pada saat membuat penawaran, sehingga tetap terlihat sangat menarik)
Jika Anda seorang penjual, carilah Value yang besar bagi calon pembeli Anda. Value bisa macam-macam, saya pernah mendengar cerita, tentang seorang pelanggan yang senang jika ditemani main Catur. Ada pelanggan yang senang kalau ditemani ngobrol. Ada pelanggan yang senang kalau bisa marah pada seseorang. Carilah Value-Value itu, dan berikan pada mereka.
“Memberikan VALUE pada orang lain
berbeda dengan
menambah BIAYA”
Daniel Lukito, 2015
5 RAHASIA sukses melakukan WIN-WIN Approach:
Kelihatannya mudah, bukan? Hehehe, akan jauh lebih mudah lagi jika Anda menguasai hal-hal berikut:
Skills 2(CEO):
Selamat mencoba, semoga sukses selalu.
Terima kasih kepada Bpk. Tung Desem Waringin, Bpk. Yan Nurindra, Bpk. Panangian Simanungkalit, Bpk. Matius Jusuf, Bpk. Rudy Sugiono, Bpk. Ongky Hojanto, Bpk. Aris Budiman, Bu Ellen May, dan pihak-pihak lain yang telah membawa saya pada pemahaman ini.
Salam Hangat,
Daniel Lukito
Published On Friday, January 23, 2015 By admin. Under: Life Balance. Edit Post
Pernahkah, sahabat sekalian mendengar istilah “Berani Rugi Takut Untung”? Saya terus terang belum lama ini mendengarnya, baru beberapa bulan yang lalu dari Bu Ellen May, salah satu pakar saham di Indonesia. Meskipun dalam konteks yang berbeda, saya menemukan istilah ini sungguh menarik.
Saya pernah mendengar orang yang mengatakan berani jual rugi dalam sebuah persaingan dagang, namun kalau menurut pendapat saya pribadi, yang seperti itu bukan “Berani Rugi” melainkan “Berani Invest”. Salah satu definisi Investasi adalah “Mengeluarkan biaya tertentu pada saat ini untuk hasil yang tidak pasti di masa depan”. Kalau menurut saya, orang tadi sebetulnya menjual dengan harga biasa, namun pada saat yang bersamaan, dia mengeluarkan biaya investasi. Hasil yang diharapkan dari investasi tersebut, misalnya saja kepercayaan pelanggan, perputaran modal yang lebih baik, dan lain sebagainya.
Lalu saya berpikir lebih lanjut, apa benar ada orang “Goblok” yang “Berani Rugi” apalagi yang “Takut Untung”? Cukup lama juga saya tidak mendapat jawaban akan hal ini, dan saya mengira bahwa sebetulnya tidak ada orang yang benar-benar Berani Rugi dan Takut Untung. Sampai akhirnya pada suatu saat di tengah-tengah saya membawakan sebuah pelatihan, tiba-tiba ada yang connect… “Blitz” (diberi visual dan sound effect sedikit, ya..). Ternyata bukan cuma ada orang-orang “Goblok” itu, bahkan banyak sekali, dan yang mengejutkan buat saya ternyata adalah, bahwa saya sendiri termasuk salah satu dari “Pendekar Goblok” tersebut.
Let’s say seseorang, katakanlah si A, mendapat tips-tips melakukan sesuatu agar bisa sukses. Sukses dalam karir, sukses dalam hidup, atau sukses dalam hal apapun yang diimpikannya. Tips-tips itu begitu sederhana dan mudah dilakukan. Namun si A, tidak melakukannya dengan berbagai alasan, sibuk lah, tidak percayalah, dan lain sebagainya. Inilah yang saya temukan sebagai salah satu contoh nyata “Berani Rugi Takut Untung”.
Dalam pelatihan Neo NLP yang saya berikan, saya menganjurkan agar peserta meniru Bpk. Krishnamurti, motivator top Indonesia. Dalam websitenya, beliau menulis bahwa salah satu hal yang membuat beliau sukses adalah dengan menulis setiap hari dalam sebuah buku harian, kalimat-kalimat terima kasih kepada Tuhan, atas apa yang kita alami hari demi hari. Sebuah teknik yang mudah ditiru. Namun setelah 2 minggu saya crosscheck lagi, ternyata dari sekian banyak peserta, hanya sedikit sekali yang rajin menulis tanpa henti setiap hari, ada juga yang menulis kadang-kadang, ada yang menganggap kalau diucapkan saja sudah cukup dan tidak perlu tulis, dan kebanyakan tidak menulis sama sekali.
Ada juga mengenai peranan agenda kerja dalam mencapai goal sehari-hari. Sebuah survey di Universitas Yale kepada 300 orang lulusannya menemukan bahwa hanya 3% dari para lulusan itu yang rajin mencatat mengenai goal-goal yang ingin dicapai dan perencanaannya. Setelah 20 tahun kemudian dalam sebuah reuni, di surveylah angkatan itu sekali lagi dan ditemukan bahwa tingkat kesuksesan total 3% dari mereka yang mencatat setara dengan total 97% dari mereka yang tidak mencatat. Artinya apa? kalau kita memiliki catatan mengenai goal dan target kita, kemungkinan kita sukses untuk mencapainya adalah 3500% lebih tinggi daripada tanpa catatan sama sekali.
Mengetahui fakta di atas, setelah ditanya lagi, ternyata tidak banyak peserta pelatihan yang mengubah kebiasaannya dari tidak memiliki catatan menjadi memiliki catatan.
Saya sendiri juga sama. Pada dasarnya saya adalah orang yang bertipe Introvert. Lebih nyaman sendirian, kalau tidak perlu-perlu sekali tidak menyapa orang yang tidak dikenal. Meskipun saat ini, untuk saya berbicara itu mudah, namun sifat introvert itu juga ternyata masih ada. Saat duduk di ruang tunggu, atau di pesawat, saya jarang sekali menyapa orang yang duduk di kanan dan kiri saya. Padahal, meskipun kecil kemungkinannya, masih ada kesempatan, orang tersebut bisa bekerjasama dengan saya di kemudian hari, baik sebagai rekan kerja, supplier, maupun pelanggan. Di sinilah saya melakukan apa yang disebut dengan “Berani Rugi dan Takut Untung”. Dengan melewatkan kesempatan menyapa orang di kanan dan kiri saya, saya sudah sebetulnya dengan sadar membuang jauh-jauh kemungkinan saya bisa dapat untung dan mengambil sikap, rugi juga tidak apa-apa.
Tindakan “Berani Rugi Takut Untung” ini adalah gejala yang tampak. Perlu dicari dan dibereskan sumbernya. Dari pengamatan saya, ada 2 belief yang mendasari seseorang mengambil sikap “Berani Rugi dan Takut Untung” ini, yaitu:
Yang pertama, bagi orang itu, sukses bukanlah suatu kebutuhan, melainkan hanya sebuah keinginan. Syukur kalau bisa tercapai, kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. “Saya puas kok dengan hidup saya saat ini.” Apakah kondisi puas itu tidak baik? Kalau menurut saya, kondisi puas itu baik sekali. Perlu diperhatikan apakah kondisi puas itu mendorong seseorang untuk lebih baik lagi, atau justru menjadi rem sehingga orang tersebut berhenti. Saya sendiri berpendapat kalau kita perlu untuk terus membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Jika kita merasa diri kita ini sudah berjalan maju, dan puas akan hal itu sementara ternyata seluruh dunia berlari, maka di mata dunia kita ini ketinggalan. Agar tidak ketinggalan, kita perlu motivasi baru. Jika kita telah merasa puas untuk diri sendiri, berusahalah untuk mencapai puas dalam lingkup yang lebih besar, seperti keluarga inti, keluarga besar, teman-teman dekat, dan terus meluas. Sehingga apa yang kita kejar sekarang dapat memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.
Yang kedua, secara tidak disadari, seseorang di alam bawah sadarnya memiliki belief kalau dia tidak layak untuk sukses. Sehingga dia merasa, dia melakukan apapun, rasanya kok percuma saja. Dia merasa bahwa kesuksesannya tidak di tangan dirinya sendiri, melainkan di tangan orang lain, misal, atasannya, perusahaannya, orang tuanya, dan lain sebagainya. Pada saat dia tidak bisa mencapai yang diinginkan, dia menyalahkan seluruh dunia kecuali dirinya sendiri. Pada saat mendapat nasehat atau masukan, dia akan mengucapkan kata-kata yang membelenggu dirinya sendiri seperti misalnya “Omong Doang”, dsb. Orang-orang yang memiliki perasaan tidak berdaya di pikiran bawah sadarnya ini cenderung sangat negatif dalam ucapan dan tingkah laku, meskipun masih mungkin tampil dengan hasil yang cukup baik. Jika terus dipelihara, dalam jangka panjang 10-20 tahun, mental block ini bisa merusak nasibnya sendiri.
Marilah kita mencari dan menyadari, pada saat apa kita melakukan “Berani Rugi Takut Untung” dan bongkarlah mental block itu segera setelah kita menyadarinya, jangan ditunggu, betapapun tidak nyamannya hal itu bagi kita saat ini. Hentikanlah kebiasaan menghilangkan kesempatan sukses bagi diri sendiri.
Salam sukses untuk semuanya,
Daniel Lukito
Published On Saturday, February 07, 2015 By admin. Under: Life Balance. Edit Post
Kita adalah produk dari teman-teman terdekat kita. Manusia adalah mahluk sosial. Satu orang berinteraksi dengan yang lain, maka setiap orang saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lain.
Sahabat-sahabatku yang dahsyat, salah seorang sahabat saya pernah mengatakan bahwa nasib seseorang sangat dipengaruhi oleh dengan siapa dia berteman, bahkan ekstrimnya, dia mengatakan bahwa 5 orang terdekat yang paling sering kita ajak bicara dan tukar pendapatlah yang paling bisa menanamkan berbagai macam belief pada kita. Belief adalah sesuatu yang kita anggap benar, meskipun seluruh dunia manganggap itu keliru. Belief mempengaruhi emosi kita. Emosi mempengaruhi pikiran kita. Pikiran mempengaruhi tindakan kita. Tindakan mempengaruhi hasil yang bisa kita peroleh. Hasil yang bisa kita peroleh menentukan NASIB kita. Dan putaran itu kembali nasib kita membentuk belief kita. Belief yang salah akan membawa kita kepada nasib yang tidak kita inginkan.
Salah seorang guru saya, Bpk. Yan Nurindra, seorang Human Achievement Specialist, suatu hari menulis di Facebooknya, “Apa bedanya TAKDIR dengan NASIB? tidak perlu dijawab dalam konteks agama, boleh dalam konteks apapun.” Sebagian besar yang menjawab pertanyaan itu membedakan dua kata itu dari sisi keikutsertaan manusia yang terkait. TAKDIR dianggap sebuah situasi yang direncanakan untuk kita dari yang Maha Kuasa, dan tidak bisa kita tolak atau hindari, misalnya siapa orang tua kita, apakah mereka kaya atau miskin, apa agama yang mereka anut, dari suku apa mereka. Sedangkan NASIB adalah segala hal yang dialami seseorang sebagai akibat atau buah dari segala hal yang dia lakukan dan segala hal yang dia tidak lakukan.
Saya yakin dari teman-teman yang suka mempelajari dan praktek pengembangan diri, pasti pernah mendengar kalimat semacam ini, “Kamu lahir miskin itu takdir, tetapi kalau kamu sampai matinya miskin, itu salahmu sendiri”
Terlepas bagaimana seharusnya dua kata TAKDIR dan NASIB itu seharusnya diartikan, yang saya bahas dalam artikel ini adalah dalam konteks seperti di atas, bukan dalam pengertian lain. Saya membuat TAKDIR dan NASIB sebagai akronim dari bagaimana terjadinya. TAKDIR saya uraikan menjadi Tanpa Ada Keputusan DIRiku, sedangkan NASIB saya uraikan menjadi meNuai Apapun Saya Ikut Berperan. Terdengar agak dipaksakan? Tidak apa, ya? Yang penting masuk.. hehehe..
Salah satu buku yang paling mempengaruhi saya dalam management korporasi adalah “Built To Last” yang di tulis oleh Jim Collins & Jerry I. Porras. Salah satu bagian yang menarik bagi saya di buku itu adalah bagaimana pentingnya sebuah perusahaan memiliki Core Values yang dipercaya dan dipegang teguh oleh seluruh karyawannya. Core Values yang bisa menguatkan mental mereka dalam menghadapi tantangan apapun, yang pada akhirnya membawa mereka menuju kesuksesan. Pada bagian lain di buku itu juga menyatakan bahwa orang-orang yang masuk ke dalam perusahaan itu dan tidak memiliki Core Values yang sama akan tersingkir (ejected like a virus).
Pada awalnya saya memahami frase “ejected like a virus” seperti berikut. Bahwa orang-orang yang tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan budaya perusahaan yang baik, misalnya budaya untuk tepat waktu, kerja keras, mengejar prestasi, akan merasa tidak nyaman dan akan keluar dari perusahaan itu dengan sendirinya. Namun pengalaman saya pribadi mengajarkan bahwa frase “ejected like a virus” juga berlaku pada kedua sisi mata uang.
Orang-orang yang fun dan energetic akan tersingkir dari perusahaan yang secara tidak disengaja memiliki budaya yang “gloomy” dan tidak menyenangkan. Orang-orang yang tidak tersingkir, dari yang tadinya terpacu dengan goal-goal dan achievements bisa berubah menjadi termotivasi hanya untuk menghindari masalah atau sanksi yang diterapkan perusahaan. Anda mungkin tidak percaya, tapi ini sungguh nyata dan terjadi. Hal ini dapat mengubah cara berpikir manusia yang tadinya berusaha mencapai prestasi setinggi-tingginya dengan resiko melakukan beberapa kesalahan menjadi berprestasi asal saja, selama tidak melakukan kesalahan. Dipenuhi orang-orang semacam ini, perusahaan akan semakin lama semakin “gloomy”.
Kisah di atas menunjukkan kalau perilaku seseorang bisa bertahan kalau keluar dari lingkungan yang tidak sesuai, atau akan berubah kalau memilih tetap berada di lingkungan tersebut. Lingkungan di sini lebih dimaksudkan pada belief system yang mengelilingi seseorang.
Jika kita memiliki 5 pribadi yang paling dekat dengan kita. Pribadi itu boleh keluarga, teman, teman di sosial media, pengarang buku yang kita baca, motivator yang pernah kita temui, dsb, tidak mungkin ke-5 pribadi tersebut memiliki pengaruh yang sama besarnya terhadap diri kita. Konsep Human Value Weighted Averaging yang saya keluarkan ini menitikberatkan pada perhitungan besarnya pengaruh dari masing-masing pribadi tersebut untuk menembus critical factor kesadaran kita hingga bisa mengubah belief system kita.
Konsep Human Value Weighted Averaging ini adalah konsep yang kontekstual. Artinya bisa saja pribadi yang mempengaruhi kita saat membuat keputusan dalam pekerjaan, berbeda dengan pribadi yang mempengaruhi kita dalam memutuskan malam ini akan makan apa.
So how does it work?
-0,7
Dapat Anda lihat bahwa 2 pribadi yang paling kuat mempengaruhi Anda dalam hal keberanian bicara di depan umum adalah pribadi 2 dan pribadi 4, di mana pribadi 4 dengan bobot yang sangat signifikan memberikan pengaruh negatif kepada Anda dalam hal yang terkait. Sayangnya, Pribadi 2 yang cukup besar juga pengaruhnya pada diri Anda, meskipun positif, tidak menunjukkan keberanian yang Anda anggap cukup. Dan kalau kita lihat, Pribadi 1 yang Anda anggap sangat hebat, ternyata pengaruhnya bagi Anda tidak terlalu besar, hal ini bisa saja disebabkan karena Anda jauh lebih dekat pada pribadi 2 dan pribadi 1.
Apa manfaatnya mengetahui dan bisa menghitung HVWA (Human Value Weighted Averaging)? Kita bisa merencanakan perubahan value diri kita sesuai dengan keinginan kita. Dengan mengetahui pribadi mana yang bisa membawa pengaruh baik dan mana yang membawa pengaruh buruk pada kita, kita kemudian dapat berusaha untuk lebih dekat pada pribadi yang membawa pengaruh baik pada kita dan mulai mengurangi kedekatan kita pada pribadi yang membawa pengaruh buruk.
Konsep HVWA ini bisa Anda terapkan dalam banyak hal. Jika Anda ingin berhenti merokok, jika Anda ingin lebih sukses, jika Anda ingin lebih percaya diri, jika Anda ingin lebih mendalami agama dan meningkatkan iman dan taqwa, jika Anda ingin membangun team dalam perusahaan. Semakin banyak kita menempatkan orang-orang hebat di sekeliling kita, maka kita akan terangkat naik. Semakin banyak kita menempatkan orang-orang yang “susah maju” di sekeliling kita, kitapun akan terseret dalam keterpurukan.
Bagaimana jika saat ini posisi Anda yang paling tinggi dan paling hebat di antara orang-orang di sekeliling Anda? Dari saya ada 2 saran:
Untuk memperbaiki NASIB Anda, Pilihlah pribadi-pribadi terdekat Anda dengan bijaksana.
Semoga artikel ini bermanfaat. Saya tunggu kritik dan sarannya untuk bisa membuat artikel ini lebih baik lagi.
Salam Dahsyat,
Daniel
Published On Monday, February 16, 2015 By admin. Under: Business & Management. Edit Post
Ketidakmampuan seorang pebisnis baru dalam memisahkan dana yang digunakan untuk modal kerja dan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi kerap menjadi salah satu sumber jatuhnya sebuah bisnis di level awal.
Seringkali seseorang memulai sebuah bisnis baru, terutama yang beralih dari pekerjaan sebagai karyawan, tidak melakukan pembedaan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Banyak dari mereka yang terjun ke dunia usaha dengan melihat bahwa apa yang dihasilkan oleh usaha baru tersebut lebih besar dari apa yang mereka terima dari saat mereka bekerja. Akibat dari dasar pemikiran yang demikian, maka seringkali pebisnis baru menganggap bahwa sumber uang pribadi dan sumber uang usaha berada di dalam kolam yang sama. Uang usaha adalah uangku dan uangku adalah uang usaha.
Pernah ada yang bertanya pada saya, “Pak Daniel, kalau saya adalah pemilik tunggal dari usaha tersebut, masakah tidak boleh dianggap sebagai satu sumber uang untuk keperluan pribadi dan keperluan usaha?”Kalau dari teman-teman semua, kira-kira bagaimana? Bolehkah?
Berikut ini pendapat saya pribadi. Menurut saya, meskipun Anda adalah pemilik tunggal suatu bisnis, sebaiknya Anda memisahkan antara dana untuk usaha dan untuk keperluan pribadi. Kenapa? Karena biasanya (tidak selalu) saat seseorang merasa memiliki penghasilan yang lebih dari yang sudah-sudah, dia lalu mulai membeli barang-barang yang sebelumnya dia bisa hidup tanpa memilikinya, misalnya sebuah TV yang lebih besar, kulkas yang mewah, gadget terbaru, mainan mahal untuk anak-anak, jalan-jalan tamasya lebih sering, dan sebagainya. Lalu yang seringkali terlihat kabur adalah, sampai di mana batasnya?
Ada seorang kawan yang memulai beberapa bulan pertama usaha barunya dengan sukses, namun pada saat hari raya Idul Fitri, dia membelanjakan uangnya tanpa berpikir. Ternyata, setelah perayaan tersebut berakhir, dia tidak punya cukup uang untuk melanjutkan usahanya, dan berhenti.
Seorang kawan lainnya yang mengambil kredit sebuah barang untuk keperluan pribadi dengan memperhitungkan keuntungan usahanya selama ini. Ternyata ada bulan-bulan di mana dia menemukan bahwa keuntungannya tidak sebesar biasanya, maka untuk membayar cicilan kredit terkait, dia harus mengambil dari dana pokok usahanya, sehingga setelah beberapa lama, usahanya tersebut terganggu dan akhirnya bubar juga.
Maka saran dari saya adalah, agar Anda sebagai pebisnis menggaji diri Anda sendiri. Hitunglah gaji Anda sejak masa perencanaan bisnis, terutama jika Anda adalah seorang karyawan yang menerima gaji tetap. Jika Anda sebelumnya menerima gaji atau upah sebesar 3 juta rupiah setiap bulannya, dan Anda memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan terjun 100% di bisnis baru Anda, pastikan bisnis baru Anda dapat menggaji Anda minimal sama dengan yang Anda dapatkan pada pekerjaan terakhir Anda. Cukupkan diri Anda dengan gaji tersebut. Gaji tersebut sudah termasuk untuk dana investasi, dana jaga-jaga / darurat, dana senang-senang, dana cicilan kredit, dana kontrak rumah atau kos, dan dana hidup sehari-hari. Anda harus bertahan agar bisa cukup hanya dengan gaji itu saja.
Dalam perencanaan bisnis, Anda juga perlu membuat suatu target keuntungan bersih bisnis Anda sesudah dipotong gaji Anda sendiri. Hal ini diperlukan agar bisnis Anda dapat berkembang dengan tambahan modal yang berasal dari bisnis itu sendiri. Target keuntungan bisnis itu berapa? Hal ini sangat dipengaruhi dari jenis dan kondisi bisnisnya sendiri, juga sangat dipengaruhi dari keinginan Anda. Kalau saya, saya akan berusaha agar keuntungan bersih bisnis saya bila dihitung dari modal kerja, minimal 5% di atas bunga pinjaman dari bank atau 5% di atas bunga kartu kredit yang paling tinggi. Ini MINIMAL, ya…. Kalau bisa diangkat lebih tinggi silakan. Kenapa saya berpatokan pada bunga pinjaman dari bank atau bunga kartu kredit? Karena suatu saat kita mungkin akan membutuhkan pinjaman dari bank atau kartu kredit untuk bisnis kita, nah keuntungannya harus cukup untuk bayar bunga.
Kemudian pertanyaan yang juga sering dilontarkan adalah mirip-mirip seperti berikut:
“Pak, gaji saya dari pekerjaan yang sekarang 3 juta rupiah per bulan. Saya ingin membuka counter HP. Kegiatannya adalah jual beli HP baru dan bekas, aksesoris HP, Service HP, dan jual Pulsa. Perkiraan saya, karena belum dikenal banyak orang, keuntungan total saya di tahun pertama (belum membedakan gaji dan untung usaha), rata-rata adalah 2.750.000 rupiah per bulan. Saya yakin ke depannya bisa sangat baik, Pak. Apakah saya tidak boleh memulai bisnis ini?”
Bagaimana pendapat teman-teman sekalian? Mungkin ada yang setuju untuk jalankan bisnis, ada yang tunggu dulu.
Yah, tidak ada yang salah dengan keputusan manapun, selama sudah didukung dengan data dan informasi yang selengkap-lengkapnya.
Barangkali di antara teman-teman juga ada yang berpikiran seperti saya, kita bisa saja tetap bekerja dengan mendapatkan gaji 3 juta rupiah, dan membayar orang lain 1.500.000 rupiah untuk menjalankan bisnis kita di saat kita bekerja. Kita jaga sendiri counternya setelah pulang kerja, dan kita menetapkan gaji diri untuk diri kita sendiri 500 ribu rupiah untuk beberapa jam kerja sore / malam hari, sehingga penghasilan probadi kita menjadi 3.500.000 rupiah. Selain dari tambahan penghasilan pribadi tersebut, kita masih bisa menyimpan keuntungan usaha sebesar 750.000 rupiah per bulan.
Setelah bisnis ini betul-betul berkembang dan mencapai target minimal kita, cukup untuk membayar gaji kita dan ada keuntungan usaha yang lebih dari minimal yang kita tentukan, barulah kita mengundurkan diri dari pekerjaan yang sekarang.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan yang sebelumnya masih belum memisahkan pos keuangan pribadi dan pos keuangan usaha, bisa terinspirasi untuk melakukan pemisahan tersebut. Kita harus kuatkan hati untuk tidak menyentuh jumlah uang yang banyak itu meskipun keuangan pribadi kita mungkin dalam keadaan yang sulit.
Salam dahsyat,
Daniel Lukito
Disclaimer: Semua yang saya contohkan di dalam artikel-artikel saya bukanlah suatu perintah atau kritik kepada siapapun. Hanya sebagai gambaran bahwa ada hal lain yang bisa dilakukan jika kita membuka pikiran kita.
Pernahkan Sahabat sekalian dalam memulai sebuah bisnis, bisnis berjalan baik, dan mulai berpikir untuk mengembangkan usahanya. Kita memikirkan bermacam-macam hal yang harus dibayar, barang yang harus dibeli, orang-orang yang harus dibayar, dan sudah pusing sampai hampir mau pecah rasanya kepala ini, dan dada terasa sesak serasa mau muntah? Alih-alih bersemangat mengembangkan bisnis baru Anda, baru memikirkan seluruh biaya yang harus dikeluarkan saja mungkin sudah membuat kita berpikir, “Bagaimana kalau barangnya tidak selaku biasanya? Bagaimana kalau tidak bisa menjual dengan harga yang kita harapkan karena muncul pesaing baru?” hingga berefek kebalikannya dan malah ingin gulung tikar saja mumpung masih ada keuntungan.
Satu tips yang dibagikan oleh banyak pengusaha adalah supaya kita bisa mengendalikan yang namanya Fixed Costs (biaya tetap). Apa sih Fixed Cost itu? Fixed costs atau biaya tetap adalah segala biaya yang sifatnya tetap. Berapapun jumlah barang yang Anda jual setiap bulannya, besarnya selalu sama. Selain Fixed Costs, ada juga biaya usaha yang disebut Variable Costs. Variable Costs ini adalah biaya yang muncul per satuan produk.
Contoh Variable Costs: biaya material atau bahan baku, upah pegawai borongan, biaya packaging, biaya delivery, dll
Contoh Fixed Costs: biaya sewa tempat usaha, biaya karyawan harian/bulanan, biaya listrik, biaya internet, biaya pemeliharaan ruang dan / atau peralatan, dll
Yang namanya pengusaha baru itu, biasanya berani terjun ke dunia bisnis, karena merasa sudah mengetahui seluk beluknya, dan dapat melakukan berbagai hal sendiri. Karena dapat melakukan banyak hal sendiri, pengusaha baru cenderung menilai bahwa akan lebih murah kalau hal A, B, C, D, E, F, dan G, bahkan kalau perlu sampai Z dilakukan sendiri, hehehe.. Semuanya itu dilakukan sendiri karena setelah survey harga ke berbagai penyedia barang dan jasa, dihitung-hitung, jika dikerjakan sendiri dapat lebih sinergis, biaya total bisa jauh lebih murah, sehingga harga jual produk dapat bersaing di pasar.
Saya tidak berani mengatakan cara tersebut salah, hanya saja, saya pernah mengalaminya, pernah melakukannya, dan menemukan bahwa pada akhirnya lebih baik untuk saya kalau bisa fokus di satu atau dua hal saja yang menjadi keunggulan kita sendiri, satu atau dua hal yang paling memberikan dampak positif bagi pertumbuhan bisnis kita. Kalau ada di antara para Sahabat pembaca yang memiliki waktu dan sumber daya yang memadai untuk mengerjakan semuanya sendiri, GOOD FOR YOU!!!
Dari beberapa cerita orang-orang yang pernah ngobrol dengan saya, kebanyakan dari mereka terkena apa yang saya sebut Synergy Trap (perangkap sinergi), banyak yang membeli barang-barang berupa aktiva tetap seperti kendaraan, mesin/peralatan, lahan dan bangunan, dsb dengan alasan, “Kalau dihitung-hitung, lebih murah mencicil untuk punya, dari pada keluar uang untuk sewa“. Orang-orang ini biasanya adalah orang yang sudah menjalankan bisnisnya dan mendapatkan keuntungan, meskipun tanpa punya gedung sendiri, tanpa punya kendaraan sendiri, dan mungkin beberapa mesin atau alat masih sewa. Dan karena belum memiliki pengalaman yang cukup, “hitung-hitungan” ada yang lupa dimasukkan, misalnya menghitung kekuatan finansial untuk cicil mobil niaga dibandingkan dengan sewa per delivery. Lupa menghitung upah sopir, bensin, perawatan rutin, perbaikan tak terduga, dan lain sebagainya, sehingga dana yang seharusnya dapat digunakan untuk mengembangkan usaha, malah tersedot ke hal-hal semacam itu. Belum lagi korban perasaan, misalnya saat jadwal kirim, ternyata mobilnya mogok dan harus dibawa ke bengkel, JENGKELnya itu lho, membuat kita beremosi negatif sepanjang hari, belum lagi komplain dari pelanggan yang sepanjang hari menelepon puluhan kali menanyakan status pengiriman barangnya.
Ada 2 hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan pendapatan usaha, yaitu mengurangi besarnya biaya yang dikeluarkan, dan menambah volume penjualan. Kalau bisa kita lakukan keduanya, bagus sekali. Namun kalau hanya bisa salah satu, misalnya karena terkendala dana yang terbatas, untuk pengusaha baru, kalau boleh saya usul, nih, pilihlah untuk melakukan berbagai hal yang dapat mendongkrak volume penjualan. Selama kita masih bisa bayar orang lain dan kita masih bisa untung, bayar saja orang itu. Orang yang terbiasa mengerjakan, akan dapat menghasilkan yang lebih baik, lebih rapi, lebih indah, lebih cepat, daripada kita kerjakan sendiri, padahal kita tidak terbiasa. Dan kalau boleh dilanjutkan, biasanya nih, pada akhirnya akan lebih murah daripada seandainya kita kerjakan sendiri.
Cermatilah komponen biaya usaha Anda,
yang tidak perlu dijadikan Fixed Cost,
biarkan saja berupa variable cost.
Lalu yang berikutnya adalah ada hal-hal yang memang berupa fixed cost, seperti sewa tempat usaha, langganan internet bulanan, bayar domain dan hosting tahunan, atau kalau misalnya sudah punya armada. Nah, para Sahabat perlu memaksimalkan penggunaan aset-aset yang biayanya muncul sebagai fixed costs tersebut.
Contoh: Misalnya salah satu dari pembaca di sini telah menyewa suatu tempat usaha di mal, dan dijadikan misalnya Counter jual pulsa. Biayanya tetap sebulan misalnya Rp. 3.000.000,-, sebuah jumlah yang wajib dibayar, berapa banyakpun Anda bisa melakukan transaksi pulsa, maka pastikan Anda bisa mendapatkan berbagai penghasilan tambahan dengan berada di lokasi tersebut. Jika Anda punya modal smartphone dengan koneksi internet, misalnya, Anda bisa saja menawarkan jasa transfer uang, jasa pembayaran listrik dan telepon, bahkan Anda bisa menerima jasa penitipan barang untuk Anda bawa ke ekspedisi tertentu, misalnya T*K* atau JN*. Temukan kebutuhan orang-orang sekitar lokasi counter pulsa Anda, baik itu orang yang berbelanja, maupun pemilik atau pegawai toko di mal tersebut. Bantu mereka agar hidup mereka lebih mudah, maka kegiatan tambahan Andapun dapat menghasilkan jumlah yang cukup baik.
Apa batasan pemanfaatan aset yang dibayar dengan Fixed Costs? Apakah bisa tanpa batas?
Dalam ilmu ekonomi ada teori pemanfaatan aset yang disebut Economies of Scale yaitu penambahan kegiatan dianggap ekonomis kalau tidak menambah aset. Dalam contoh di atas, maka semua hal yang dapat mendatangkan keuntungan dengan memanfaatkan sewa tempat usaha tadi dapat dilakukan, namun apabila suatu kegiatan tambahan ternyata membutuhkan tempat yang lebih luas, sehingga harus membayar biaya sewa lebih besar, maka kegiatan tersebut dinilai tidak ekonomis atau disebut kondisi Diseconomies of Scale.
Manfaatkan Aset Anda yang dibiayai secara tetap
sampai dapat menghasilkan dengan maksimal
Semoga artikel ini bermanfaat bagi Para Sahabat semua. Silakan berikan saran dan kritiknya, atau bila ada pertanyaan, bisa lebih cepat ditanggapi jika disampaikan melalui email.
Salam GO-SIP,
Daniel Lukito
Gunakan Otak – Selalu Incar Peluang
Disclaimer: Semua yang saya contohkan di dalam artikel-artikel saya bukanlah suatu perintah atau kritik kepada siapapun. Hanya sebagai gambaran bahwa ada hal-hal luar biasa yang bisa dilakukan jika kita bersedia membuka pikiran kita.
Sistem Auto-Pilot Vs. Sistem Auto Destruct
Dari sekian banyak orang yang datang pada saya dan mengutarakan keinginannya untuk memiliki sebuah sistem untuk menjalankan perusahaannya sehingga, baik untuk sebagian maupun keseluruhan kegiatan usahanya bisa ditinggal untuk melakukan kegiatan lainnya, banyak di antaranya yang memiliki pengertian yang berbeda dengan saya tentang sebuah sistem manajemen.
Tidak mengatakan bahwa versi mereka keliru, saya ingin menuliskan sedikit tentang versi saya tentang sistem manajemen.
Apakah Business Auto Pilot itu bisa tercapai?
Kalau pendapat saya, terserah mau menggunakan istilah apa, Business Auto Pilot boleh, Business Automation boleh, Management System juga boleh. Bagi saya sebuah kondisi yang bisa diceritakan dengan detail, bisa diusahakan tercapai.
Banyak orang yang kurang meluangkan waktu untuk Apabila seseorang tidak bisa menceritakan dengan detail apa yang diinginkan untuk terjadi pada system yang akan dibangun,